Income definitions
| Sumber |
Definisi |
Pendekatan |
| ATB 2 |
Income dan profit : Jumlah yang dihasilkan dari revenue atau operation revenue – cost of goods sold, biaya-biaya lain serta kerugian |
Revenue-expense approach |
| APB Statement 4 |
Net income/net loss : kelebihan/defisit pendapatan (revenue) atas biaya-biaya untuk satu periode akuntansi |
Revenue-expense approach |
| SFAC No. 6 |
Comprehensive income : perubahan ekuitas (net assets) sebuah entitas selama satu periode transaksi serta kejadian dan circumstances lain diluar dari pemilik |
Asset-liability approach |
Terdapat perubahan arah pada pengertian yang dipaparkan di SFAC No. 6, yaitu perubahan ke arah pendekatan asset-liability, yang kemungkinan besar merupakan arah yang telah dan akan diambil oleh FASB. Perubahan yang terlihat pada income statement memang belum dapat terlihat, tapi mungkin akan mulai terlihat dampaknya beberapa waktu kemudian.
Revenues and Gains
| Sumber |
Definisi |
Pendekatan |
| ATB 2 |
Revenue : hasil dari penjualan barang dan memberikan jasa dan diukur dengan harga yang dibebankan kepada konsumen, klien, atau penyewa |
Revenue-expense approach |
| APB Statement 4 |
Revenue : peningkatan kotor asset dan penurunan kotor liabilitas yang diukur sesuai dengan GAAP yang merupakan hasil dari aktivitas yang bertujuan mendapatkan profit |
Asset-liability approach |
| SFAC No. 6 |
Revenue : arus masuk atau peningkatan asset sebuah entitas, pelunasan liabilitasnya, ataupun kombinasi keduanya selama satu periode dari mengirimkan atau memproduksi barang, memberikan jasa, ataupun aktivitas lain yang merupakan aktivitas operasional utama perusahaan |
Asset-liability approach |
Definisi pertama sangat jelas menekankan pada identifikasi langsung terhadap aktivitas yang menghasilkan revenue. Kemudian, mulai terdapat pergeseran pendekatan yang digunakan dari revenue- expense approach ke asset-liability approach dalam pengertian yang dipaparkan pada APB Statement 4. Tapi di sini sebenarnya masih asset-liability approach, mengingat pengukuran berdasarkan GAAP menandakan bahwa pengertian ini masih menggunakan orientasi revenue-expense. Pendekatan asset-liabilities baru jelas digunakan di pengertian SFAC No. 6 dan bersifat konsisten terhadap pengertian comprehensive income pada SFAC yang sama.
Ketiga pengertian diatas sama-sama membahas tentang pengukuran revenue, sehinggal memunculkan masalah recognition ke dalam definisi tersebut. Padahal sebenarnya secara konseptual cara mengukur suatu elemen harus dikonsepkan terpisah dari definisi karena pertanyaan soal pengakuan dan pengukuran akan mengganggu pembahasan tentang masalah apa yang diukur.
Gains memiliki dua pengertian :
-
Pendapatan yang diperoleh selain dari hasil penjualan barang dan jasa yang merupakan aktivitas utama perusahaan.
-
Peningkatan ekuitas (net asset) dari transaksi sekeliling ataupun insidental, kecuali yang berasal dari pendapatan/investasi pemilik.
Karena adanya perbedaan konsep antara revenue dan gain, maka muncullah dua konsep income. Yang pertama adalah current operating income concept yang menyatakan bahwa gains tidak menunjukkan produktivitas perusahaan (karena berasal dari luar aktivitas utama perusahaan) sehingga tidak perlu disajikan dalam laporan keuangan. Pendapat kedua disebut all- inclusive income concept yang berpendapat bahwa semua informasi harus disajikan.
Revenue Recognition
Secara teoritis, revenue harus diiakui setiap waktu dimana mayoritas aktivitas ekonomi yang diperlukan untuk pembuatan dan pelepasan barang dan jasa telah dicapai. Masalahnya, secara praktis sulit untuk melakukan pengukuran yang obyektif karena tidak ada revenue yang dapat diakui jika belum ada pengukuran yang verifiable. Selain itu, tidak semua aktivitas terjadi dalam satu periode. Berikut ini merupakan empat poin alternatif pengakuan pendapatan:
-
Selama produksi : untuk kontrak jangka panjang tertentu, seperti pada kasus agriculture dan pertambangan yang menggunakan installment method dimana pendapatan diakui pada saat kas diterima. Syaratnya adalah adanya estimasi yang andal atas proses yang sedang berlangsung seperti lamanya proses, kos untuk menyelesaikan, dan adanya jaminan kolektabilitas.
-
Pada saat produksi diselesaikan : dengan syarat kondisi market dan demand stabil dan produk dapat segera dipertukarkan.
-
Pengakuan pada saat terjadinya penjualan : merupakan prinsip umum dalam pengakuan. Namun saat ini muncul transaksi-transaksi sehingga prinsip ini tidak lagi sesuai dan menimbulkan masalah baru (seperti transaksi penjualan dengan garansi kembali).
-
Pada saat kas diterima (basis kas) : apabila tidak diperoleh dasar yang masuk akal untuk estimasi kolektabilitas. Pengakuan dilakukan pada saat earning proses telah selesai. Terdapat tiga atribut yang harus diukur antara lain: harga jual, pengumpulan (kolektabilitas) kas, dan kos di masa mendatang. Jika ketiga atribut diatas dapat diukur secara masuk akal, maka pendapatan harus diakui. Aturan tradisional mengenai pengakuan lebih menekankan pada laporan laba rugi, sementara standard setting (SFAS No. 157) tentang pengukuran fair value mulai bergeser ke neraca.
Secara umum, revenue diakui saat kepemilikan legal telah berpindah. Namun, prinsip pengakuan ini banyak dibantah oleh literatur profesional. Saat ini, walaupun norma pengakuan revenue adalah pada point of sale, namun kriteria pengakuan revenue yang utama adalah pada saat selesainya earning process atau ketika transaksi atau peristiwa yang dapat merupakan proses earning telah muncul. Sebelum ini, tentu saja masalah-masalah pengukuran harus sudah diatasi, yaitu masalah pengukuran harga jual, pengumpulan kas, dan kos masa depan.
Peraturan tradisional pengakuan revenue memang masih berorientasi pada income statement, tetapi penekanan pembuat standar telah bergeser ke balance sheet. Hal ini menunjukkan bahwa FASB dan IASB sedang dalam tahap awal untuk memandang pengakuan revenue sebagai aspek dari perubahan aset dan liabilitas.
Expenses and Losses
| Sumber |
Definisi |
Pendekatan |
| ATB 4 |
Biaya : semua expired cost yang sudah dikurangkan dari pendapatan |
Revenue-expense approach |
| APB Statement 4 |
Biaya : penurunan kotor pada asset atau peningkatan kotor pada liabilitas yang diakui dan diukur sesuai dengan GAAP yang dihasilkan dari aktivitas profit- oriented suatu entitas |
Mulai ada hubungan net asset, tapi pengukuran masih berdasar pada revenue-expense approach |
| SFAC No. 6 |
Biaya : arus keluar atau penggunaan lain asset atau kewajiban yang terjadi (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode dari mengantarkan atau produksi barang, memberikan jasa, atau melakukan aktivitas lain yang merupakan aktivitas operasi utama perusahaan |
Asset-liability approach |
Losses atau kerugian didefinisikan dalam APB Statement No. 4 dan SFAC No. 6 dalam cara yang sama seperti gains. Losses mencerminkan pengurangan pada net asset yang bukan karena biaya atau transaksi modal.
Pengakuan terhadap biaya terdapat dalam APB Statement No. 4 dimana biaya sendiri diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu:
-
Kos yang diasosiasikan secara langsung dengan periode pendapatan.
-
Kos yang diasosiasikan dengan periode dengan beberapa basis.
-
Kos yang secara praktik tidak dapat diasosiasikan dengan periode manapun.
Jika memungkinkan, kos harus dibandingkan dengan biaya yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Jika tidak dapat dilakukan secara langsung, maka kos dapat dibandingkan dengan pendapatan dengan menggunakan cara yang rasional dan sistematis. Apabila kedua cara sebelumnya itu tidak dapat dilakukan, maka kos diakui pada periode biaya terjadi. kos yang terjadi di periode saat ini maupun periode lampau, yang tidak memiliki manfaat di masa mendatang harus diakui sebagai expense sesegera mungkin. Sebenarnya para akuntan berpendapat bahwa metode alokasi bersifat arbitrary, artinya tidak ada satu metode yang lebih baik dari metode yang lain. Oleh karena itu terdapat beberapa yang menyarankan allocation- free accounting dengan menggunakan laporan arus kas, exit- price systems, dan tipe tertentu dari replacement- cost system.
Future Events and Accounting Recognition
Sifat dan peran kejadian di masa yang akan datang serta proses pengakuan telah memperoleh banyak perhatian. Sebab, proses pelaporan kita berdasar pada pencatatan kejadian yang TELAH terjadi, tetapi kejadian masa lalu tersebut serta pencatatannya justru sangat bergantung pada interpretasi kita terhadap kejadian baik yang akan maupun yang tidak akan terjadi. Misalnya adalah perhitungan depresiasi.
Berikut ini merupakan beberapa aspek mengenai kejadian di masa mendatang:
-
Persepsi atas kejadian masa lalu ; yang menggunakan one- event view dimana suatu kejadian hanya dilihat dari sisi satu pihak atau two- event view yang dilihat dari kedua pihak. One- event view lebih reliable sebab sekalipun menggunakan two- event view, estimasi seringkali masih harus dibuat dari present value sumber daya yang benar-benar akan dibelanjakan.
-
Probabilitas kejadian di masa mendatang; yang merupakan salah satu masalah penting terkait dengan asumsi dan estimasi di masa yang akan datang. Misalnya asumsi bahwa kos yang digunakan untuk memperoleh asset akan terganti (recovered) dari kegiatan operasi di masa mendatang, asumsi bahwa kewajiban akan dapat dibayar tepat waktu, atau terkait masalah kontinjensi.
-
Tujuan manajemen; namun hal ini ditolak sebagai basis pengakuan kejadian karena manajemen mungkin saja merubah tujuannya. Selain itu, adanya teori keagenan dan perbedaan tujuan manajemen di masing- masing perusahaan menyebabkan berkurangnya daya banding.
-
Nilai pasar mencerminkan konsensus pasar atas kondisi saat ini yang merupakan present value dari ekspektasi kondisi di masa mendatang. Kelemahannya adalah beberapa harga pasar mungkin saja merupakan hasil dari perdagangan sekuritas secara kecil sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai penyajian yang sejujurnya (representational faithfulness) dan verifiabilitas.
-
Konservatisme. Menurut analisis Beaver, kemajuan dalam menyelesaikan masalah terkait kejadian di masa mendatang, akan memperkecil perannya.
-
Kondisi ekonomi di masa mendatang: konsensus untuk menghindari prediksi perubahan ekonomi di masa mendatang kecuali bila ada bukti yang kuat.
-
Peraturan legal di masa mendatang: menolak memprediksi perubahan legal di masa mendatang sebelum draft- nya diberlakukan.
Current Operating vs All- Inclusive Income
Terdapat dua pandangan mengenai komponen- komponen tertentu dalam comprehensive income, apakah disajikan dalam laporan keuangan atau laporan laba ditahan. Current operating concept berpendapat bahwa laporan keuangan hanya berisi informasi yang berkaitan dengan aktivitas utama perusahaan, sedangkan extraordinary items (gains and losses) disajikan di laporan laba ditahan. Alasannnya adalah bahwaextraordinary items tersebut tidak digunakan manajemen dalam pengambilan keputusan dan hal tersebut tidak mencerminkan produktivitas perusahaan. Pengguna laporan keuangan cenderung hanya melihat angka paling bawah (total) di laporan keuangan tanpa melihat rinciannya sehingga dikhawatirkan bila extraordinary dimasukkan, akan menyesatkan pengguna.
Namun all- inclusive concept berpendapat lain. Ada beberapa alasan, antara lain: konsep current-operating akan mempermudah manajemen untuk melakukan manipulasi, pengguna laporan keuangan mungkin tidak menyadari substansi gains dan losses yang disembunyikan dalam laporan laba ditahan, jumlah total income di laporan keuangan harus mencerminkan income selama satu periode, dan dapat dilakukan klasifikasi yang tepat dalam laporan keuangan antara aktivitas operasi normal perusahaan dengan aktivitas di luar usaha sehingga keduanya dapat disajikan dalam satu laporan.
AAA lebih cenderung pada all- inclusive concept, sedangkan AICPA awalnya lebih memilih current- operating concept hingga keluarnya APB Opinion No.9 . Dalam isu kedua konsep ini, ada pula yang disebut bath teory dimana terdapat pemikiran bahwa dengan mancantumkan seluruh gains dan losses dalam laporan keuangan, berdampak positif pada harga saham perusahaan tersebut karena investor beranggapan perusahaan tersebut telah berhasil menemukan kesalahan dalam perusahaannya sehingga dapat segera diperbaiki.
Comprehensive Income
Comprehensive income menggunakan pendekatan all- inclusive concept dan termasuk dalam cakupan proprietary theory karena seluruh perubahan terhadap ekuitas (kecuali untuk transaksi modal dengan pemilik) dimasukkan dalam perhitungancomprehensive income. Selain itu, ia juga dianggap tepat untuk tujuan prediksi dan penilaian ekuitas.
Elemen comprehensive income terdapat pada SFAS No. 130 antara lain penyesuaian translasi kurs mata uang asing, unrealized holding gains and losses of available-for-sale securities, penyesuaian kewajiban minimum dana pensiun, discontinued operations, extraordinary items, dan gains atau losses yang berasal dari akumulasi perubahan prinsip akuntansi, dsb. FASB menyatakan bahwa EPS tidak boleh dimasukkan dalam perhitungan comprehensive income karena alasan fleksibilitas kebijakan pelaporan: jika comprehensive income disajikan dalam laporan perubahan ekuitas, maka perhitungan EPS akan membingungkan dan tidak konsisten.
SFAS No. 130 mengijinkan tiga metode pelaporan comprehensive income antara lain: kombinasi dengan laporan kinerja keuangan (comprehensive income disajikan di bawah net income), laporan terpisah yang akan dimulai dengan net income, dan dicantumkan dalam laporan perubahan ekuitas. FASB menyarankan untuk menggunakan metode yang pertama. Namun ada dua anggota SFAS yang berselisih karena mereka berkeyakinan bahwa kebanyakan perusahaan akan lebih cenderung pada metode ketiga. Hal ini akan mengurangi visibilitas dan pentingnya comprehensive income.
Nonoperating Sections
Extraordinary items
Telah dikembangkan sejak APB Opinion No.9 dan sekarang terdiri dari tiga subdivisi yaitu: extraordinary items, perubahan prinsip akuntansi, discontinued operations. Selanjutnya, item keempat yaitu penyesuaian periode sebelumnya yang disajikan di laporan laba ditahan.
Penyajian extraordinary items memicu kontroversi yang basisnya adalah persepsi pengguna laporan keuangan atas hasil operasi, dan proyeksi operasi di masa mendatang untuk entitas pelaporan. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan untuk memisahkan operasi normal dengan operasi yang di luar usaha atau jarang terjadi. Selama 19 tahun, pelaporan extraordinary items tidak seragam. Kemudian APB Opinion No. 9 berusaha mengatasi kekacauan dengan meminta disajikannya extraordinary items dalam sebuah bagian khusus di laporan keuangan. Extraordinary items didefinisikan sebagai kejadian atau transaksi yang memiliki dampak material yang diharapkan jarang terjadi dan tidak dipertimbangkan sebagai factor rutin dalam evaluasi operasi dan proses bisnis secara rutin. Namun definisi tersebut masih dirasa ambigu. Akhirnya APB mengeluarkan APB Opinion No. 30 yang mendefinisikan extraordinary items sebagai item yang harus memenuhi dua syarat yaitu unsual in nature dan infrequency of occurrence. Apabila suatu kejadian atau transaksi memenuhi dua persyaratan tersebut, maka ia harus dilaporkan dalam laporan keuangan dibagian tersendiri sebelum net income dan disajikan net of tax.Namun jika terdapat kejadian atau transaksi yang hanya memenuhi salah satu dari persyaratan tersebut, maka disajikan bersama dengan revenue, costs, dan expensesseperti normal operasi yang lain serta tidak boleh disajikan net of tax. Jika material, maka dipisahkan dari item lain. Tapi jika tidak material, maka tidak dipisah.
Accounting Changes
Perubahan akuntansi dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu perubahan prinsip akuntansi, perubahan estimasi akuntansi, dan perubahan entitas pelaporan.
-
Perubahan pada prinsip akuntansi : karena adopsi GAAP yang berbeda dari GAAP yang digunakan sebelumnya. APB Opinion No. 20 merupakan standar komprehensif dan konsisten pertama yang membahas tentang perubahan akuntansi. Setelah itu muncul SFAC No. 3 yang akhirnya digantikan oleh SFAS No. 154. SFAS No. 154 mensyaratkan perubahan retrospektif di semua income statement yang terkait kecuali jika memang tidak mungkin dilakukan. Akun neraca akan disesuaikan untuk merefleksikan efek kumulatif perubahan prinsip akuntansi pada awal periode yang disajikan. Perubahan retrospektif tidak berlaku pada akun yang akan terpengaruh oleh perubahan akuntansi kecuali untuk pajak penghasilan. Menurut APB Opinion No. 20, alasan perubahan harus diungkapkan pada catatan kaki.
-
Perubahan pada estimasi akuntansi : karena adanya perubahan pada hal-hal yang telah diestimasi sebelumnya karena seiring berjalannya waktu, informasi untuk membuat estimasi semakin banyak didapatkan. Perubahan estimasi akuntansi tidak dilaporkan secara terpisah. Efek perubahan dicatat pada periode perubahan jika periode tersebut merupakan periode yang terkena pengaruh, atau pada periode tersebut dan periode-periode berikutnya jika perubahan mempengaruhi keduanya.
-
Perubahan pada entitas pelapor : karena adanya perubahan material pada entitas pelapor sejak terakhir pembuatan laporan keuangan. APB Opinion No. 20 mensyaratkan laporan keuangan semua periode untuk dicatat ulang untuk menunjukkan informasi keuangan jika entitas tersebut sejak awal berdiri memang sudah seperti itu. Laporan keuangan periode perubahan harus menyatakan sifat dan alasan perubahan.
Prior Period Adjustments
Tidak ada perubahan berarti pada SFAC No. 154 untuk mengamandemen peraturan-peraturan sebelumnya. Akuntansi dan penyajian penyesuaian periode sebelumnya tidak berbelit-belit, yaitu jumlah penyesuaian periode sebelumnya tersebut dibebankan atau dikreditkan pada saldo laba ditahan awal periode, kemudian exhibited net of tax pada pernyatan laba ditahan dan terakhir dikeluarkan dari penentuan net income periode saat ini.
Menurut APB Opinion No. 9, untuk dapat diklasifikasikan sebagai penyesuaian periode sebelumnya, suatu peristiwa/transaksi harus memenuhi syarat :
-
Teridentifikasi secara spesifik ke suatu periode dan tidak dapat diatribusikan ke peristiwa ekonomi yang terjadi di periode sebelum periode tersebut
-
Ditentukan terutama oleh orang alih-alih manajemen
-
Tidak rentan terhadap estimasi sebelum penentuan
Namun, karena ada intervensi dari SEC, maka akhirnya FASB merevisi konsep penyesuaian periode sebelumnya ini menjadi terbatas pada (SFAS No. 16) :
SFAS No. 16 tidak banyak mempengaruhi pelaporan perubahan akuntansi tertentu yang treated for accounting purposes seperti penyesuaian periode sebelumnya. Perlakuan ini disyaratkan untuk sedikit perubahan prinsip akuntansi.
Earnings per Share
Sebelum APB Opinion No. 9, keputusan untuk melaporkan EPS, bagaimana perhitungannya dan kemana dilaporkan berada di tangan manajemen sehingga mudah dimanipulasi. Opini ini hanya sekedar merekomendasikan, tapi tidak mewajibkan. Karena mudahnya manipulasi, maka pada 1969 APB merilis APB Opinion No. 15 yang bertujuan supaya EPS dapat merefleksikan substansi ekonomi yang mendasar dari struktur modal perusahaan pelapor.
Pada 1993, FASB bekerjasama dengan IASB menerbitkan prospektus untuk mengevaluasi APB Opinion No. 15 untuk (1) meningkatkan comparability dengan negara lain, (2) memudahkan perhitungan EPS, dan (3) merevisi persyaratan pengungkapan. Perubahan prinsipal yang terjadi pada SFAS No. 128 ini adalah :
-
Penghilangan perhitungan primary earning per share karena sulit dihitung dan sulit dimengerti pengguna. Saat ini, yang disyaratkan hanyalah basic EPS dimana tidak ada dilution dan diluted EPS yang memiliki dilution paling besar.
-
Basic dan diluted EPS sama-sama harus ditampilkan dalam kondisi apapun.
-
Perhitungan EPS harus ditampilkan pada income statement untuk baik basic EPS maupun diluted EPS.
-
Rekonsiliasi baik penyebut maupun pembilang antara basic dan diluted EPS.
Specialized Subjects Concerning Income Measurement
Development Stage Enterprises
Masalah teoritis terkait perusahaan yang masih berada pada tahap perkembangan adalah apakah kos yang muncul akan dibebankan ataukah ditunda. Alasan untuk menunda kos dan operating losses adalah karena kos tersebut (1) belum mendatangkan revenue dan (2) memberikan benefit masa depan. Sebelum 1 Januari 1976, ada dua standar akuntansi yang ditujukan untuk perusahaan yang sedang berkembang dan untuk operating enterprises. SFAC No. 7 mensyaratkan bahwa sifat kos merupakan hal yang menentukan akuntansi yang tepat dan bukan sifat perusahaannya.
Troubled Debt Restructuring
Troubled debt restructuring muncul ketika kreditur mengabulkan kelonggaran pada debitur karena debitur mengalami kesulitan keuangan yang it would not otherwise consider. SFAS No. 15 mementingkan economic consequences di atas representational faithfulness. Dampaknya dihitung dari carrying amount kewajiban segera sebelum restrukturisasi –total aliran kas undiscounted setelah restrukturisasi. Ketika term of debt dimodifikasi namun tetap bersifat sebagai kewajiban, maka tidak ada transaksi/peristiwa yang terjadi (tidak ada pencatatan) baik di sisi kreditur maupun di sisi debitur selama total aliran kas masa depan yang tidak didiskon > carrying amount kewajiban.
Saat ini, SFAS No. 114 telah mengubah peraturan tersebut bagi kreditur dimana aliran kas yang direstrukturisasi didiskon terhadap tingkat suku bunga efektif pada awal transaksi. Pengurangan carrying value pinjaman akan dicatat sebagai tambahan bad debt expense. Perubahan present value aliran kas masa depan ekspektasian diakui sebagai pendapatan bunga ataupun pengurangan bad debt expense. Masalah dari SFAS ini adalah :
Early Extinguishment of Debt
Sebelum APB Opinion No. 26, ada 3 metode akuntansi gain/loss terhadap penghilangan utang sebelum waktunya :
-
Diamortisasi selama sisa jangka waktu aslinya
-
Diamortisasi selama jangka waktu utang baru
-
Diakui pada income statement saat ini. Metode ini akhirnya diadopsi pleh APB Opinion No. 9 untuk menentukan apakah gin/loss tersebut bersifat extraordinary.
APB Opinion No. 30 menyatakan bahwa gain/loss dari penghilangan utang sebelum waktunya tidak termasuk extraordinary. Akhirnya, SFAS No. 4 menyatakan bahwa gain/loss dari penghilangan utang sebelum waktunya dicatat seperti dan bersama dengan extraordinary items net of the applicable tax effects, jika material.
Stock Options
Stock options merupakan alat kompensasi manajemen yang telah menarik banyak perhatian. Hal ini telah menjadi instrumen yang sangat membuat tidak stabil karena pada banyak kasus, opsi sangat besar dan dapat dilaksanakan pada periode yang sangat singkat tanpa adanya syarat bahwa saham yang abru diperoleh itu harus dipegang untuk beberapa periode setelah perolehan sehingga manajemen sering mecoba mempengaruhi harga saham dengan manipulasi income. Saat ini, stock options dipandang dari perspektif finite uniformity.
Nonqualified Stock Options
APB Opinion No. 25 mensyaratkan nonqualified stock options (bargain amount of stock options) untuk dialokasikan sebagai biaya periodik dari tanggal pengadaan dan dilakukan selama periode yang menerima manfaat. Bargain amount diukur sebesar harga pasar – harga eksekusi opsi saham pada tanggal pengukuran (waktu dimana jumlah opsi dan harga eksekusi diketahui). Jika salah satu atau keduanya tidak diketahui, maka perlu dibuat estimasi tahunan terhadap kedua hal tersebut serta estimasi harga pasar pada tanggal pengukuran masa depan.
Incentive Stock Options
APB Opinion No. 25 tidak mensyaratkan penghitungan biaya apapun terkait incentive stock options. Menurut FASB, karena incentive stock options merupakan satu bentuk kompensasi, maka harus ada pengakuan biaya. Karena opsi tersebut bernilai bagi pegawai, maka suatu aset diakui pada tanggal pengukuran. Tanggal pengukuran untuk menentukan nilai opsi saham biasanya adalah tanggal pengesahan dan ditentukan oleh model seperti Black-Scholes atau lattice type. Service period dimana opsi saham akan dibebankan berlangsung dari tanggal pengesahan sampai tanggal opsi tersebut dapat dieksekusi. Perusahaan menggunakan amortisasi garis lurus, mendebit biaya komepnsasi dan mengkredit stock options.
Backdating Stock Options
Perlakuan ini mungkin memang tidak ilegal, tapi kurang dalam pengungkapannya karena hal ini melanggar peraturan SEC.
Stock Options and Equity Theories
Opsi saham merupakan kompensasi bagi pegawai, namun dibawah entity theory, dividen dan bunga merupakan distribusi ke pemberi modal sehingga perlakuan yang sama harunsya berlaku bagi opsi saham karena penerimanya merupakan pemilik perusahaan. Kos bagi perusahaan hanyalah opportunity cost = (market value per share – strike price per saham) x jumlah saham yang dikeluarkan pada periode tersebut. Sedangkan dibawah proprietary theory, opsi saham merepresentasikan kos yang sangat riil kepada pemegang saham sebab nilai saham mereka akan berkurang jika harga opsi saham lebih rendah dari nilai pasar.
Income statement sebaiknya diformat ulang, dengan mengubah satu hal : biaya bunga jangan dikurangkan untuk menghitung net income, sehingga akan menghasilkan entity income dikurangi dengan kos bunga dan kos opsi saham, sehingga akan menghasilkan proprietary income. Pengguna akan mendapatkan manfaat dari mengetahui dua jenis income ini karena :
Earnings Management
Earnings management merupakan intervensi dalam proses pelaporan keuangan eksternal yang bertujuan untuk memperoleh private gain (Schipper). Earning management yang paling banyak ditemui adalah management compensation dan income smoothing.
Management Compensation
Kompensasi ini bertujuan untuk mengaur perilaku manajemen dengan kepentingan pemegang saham mengingat dua pihak itu seringkali menemui konflik. Selain kompensasi kas, ada juga insentif bonus berdasarkan income/harga saham dan insentif jangka panjang. Income dapat diatur dengan memanipulasi discretionary accruals (akrual yang dapat diatur manajemen dalam jangka pendek).
Income Smoothing
Manajer berusaha untuk memperhalus income pertahun agar arus earning dapat lebih stabil dengan varian antar tahun yang lebih kecil sehingga penilaian terhadap perusahaan menjadi lebih baik. Ada 3 cara untuk dapat memperhalus earning :
Income Statement Developments
Cash Earnings
Howell menyarankan sebuah cash earnings operating statement yang terdiri atas pendapatan kas dikurangi aliran kas operasional (kos jasa kepada pelanggan, kos konversi, maupun kos pengembangan dan administrasi). Operating income –aliran biaya dan akrual nonkas = cash earnings. Aliran kas memang penting, tapi sebenarnya akrual juga penting untuk memprediksi earning masa depan.
Pro Forma Earnings and Offshots
Proforma earning ditujukan untuk tujuan prediksi, merupakan pengembangan dari gagasan current operating. Sayangnya, manajemen sering melihat proforma sebagai cara untuk mengeliminasi bad news dan mempertahankan favorable events sehingga pernyataan menjadi bias. Suatu laporan G-4+1 menyarankan suatu income statement yang juga bertujuan untuk tujuan prediksi, terkait dengan earnings sustainability, yang terdiri atas :
-
Hasil aktivitas operasi/perdagangan
-
Hasil aktivitas pendanaan dan perbendaharaan lainnya
-
Gain/losses lainnya
Matrix Approaches
Usulan Barker ini mirip dengan laporan G-4+1, hanya ia menyampaikannya dalam bentuk matriks. Pertama ia menunjukkan comrehensive income dengan pembagian antara earning sustainability items dan kategori lainnya. Kemudian ia membreak out total item-item yang tidak berguna untuk tujuan prediktif karena tidak sistainable dan controllable. Hasilnya terdiri atas tiga kolom : (1) kolom total dengan pengaturan operating items di atas nonoperating items, (2) kolom “sebelum pengukuran” yang dilanjutkan dengan item-item operating dan nonoperating, dan (3) kolom “remeasurement” yang terdiri atas nonrecurring items.
Jika Barker hanya menekankan pada pemisahan antara recurring dengan nonrecurring, Glover dkk mendasarkan pada pembedaan fakta vs prakiraan.
Retrospective Reports
Lundholm melaporkan akurasi berbagai estimasi akuntansi ex post yang muncul pada laporan keuangan, yang juga terdiri atas bad debt expenses, warranty expenses, dan kewajiban benefir pensiun proyeksian.